Minggu, 02 November 2014

Sugeng Rusmiwari: Tugas ke 3, UTS MK Teori-Teori Ilmu Sosial

Sugeng Rusmiwari: Tugas ke 3, UTS MK Teori-Teori Ilmu Sosial

Adnin Ridha Rerifki: Tugas ke 3, UTS MK Teori-Teori Ilmu Sosial

Sugeng RusmiwariAdnin Ridha Rerifki: Tugas ke 3, UTS MK Teori-Teori Ilmu Sosial

Tugas ke 3, UTS MK Teori-Teori Ilmu Sosial


Tugas ke 3, UTS MK Teori-Teori Ilmu Sosial

TUGAS KE 3, UJIAN TENGAH SEMESTER (UTS).
Pada pertemuan ke 7
MATA KULIAH TEORI-TEORI ILMU SOSIAL
Pertanyaan;
Berikan analisis kritis, Apa dan Bagaimanakah Hakekat Teori-Teori Ilmu Sosial bilamana dihubungakan dengan Kompetensi yang akan dibentuk untuk atau pada Saudara dari Mata Kuliah ini, dengan bersandarkan kepada Teori Interaksi Simbolik  serta teori terpilih faforit yang lain pilihan Saudara ?
Keterangan:
1.       Hasil analisis kritis diunggah pada Blogg masing-masing mahasiswa, sebagai Karya Ilmiah (Artikel) !;
2.       Hasil unggah dari Blogg, diprint dan diserahkan pada dosen pengajar untuk bukti laporan dan penilaian UTS, pada pertemuan ke 8, tidak diijinkan terlambat;
3.       Benang merah / Abstrak dari artikel, tugas ke tiga dimasukkan pada komentar langsung di blog ini (milik dosen pengampu/pengajar);

Terimakasih, selamat bekerja.


Jawaban :

Hakekat teori-teori ilmu sosial adalah mempelajari dan menyatukan segala konsep-konsep ataupun hal-hal baik itu gagasan maupun permasalahan yang berkaitan dengan kehidupan sosial. Apabila dianalisa serta dikaitkan dengan kompetensi yang akan dibentuk khususnya pada mahasiswa Ilmu Administrasi Negara, teori-teori ilmu sosial ini sangatlah menjadi poin inti dalam proses pembentukan menjadi sarjana sosial, yang mana nantinya setelah lepas dari perkuliahan di dunia kampus mahasiswa akan menghadapi berbagai tantangan secara langsung di dunia kemasyarakatan tentunya berkaitan dengan pengambilan keputusan, pembuatan kebijakan, serta turut andil di dalam hal pemecahan permasalahan-permasalahan sosial. Dengan begitu, jelas sangatlah penting posisi teoiri ilmu sosial ini guna menjadikan bekal dalam membantu berkecimpung di dunia sosial kemasyarakatan.
Apabila disandarkan pada teori interaksi simbolik, kita selaku mahasiswa yang akan di cetak untuk menjadi seorang Leader tentunya tak lepas dari kehidupan sosial yang bersentuhan langsung dengan pengambilan keputusan di dalam sebuah konflik yang ada di masyarakat. Sebagai individu, tentunya secara alamiah melakukan sebuah interaksi yang amna dalam interaksi tersebut tentu akan mengedapnkan sebuah simbol, atau biasa disebut sebagai bentuk komunikasi non verbal. Uniknya, interaksi simbolik in menyatu dengan kebenaran, karena bersifat alamiah yang tak bisa disengaja atau diada-adakan. Dengan demikian, mahasiswa calon sarjana sosial ini nantinya akan dapat berinteraksi dengan menggunakan kehati-hatian dalam menunjukkan simbol baik secara perilaku,bahasa tubuh, ataupun kemampuan berbicara dan dapat menyelesaikan sebuah persolan atau konflik yang ada dengan berpedoman Kebenaran yang ada pada komunikasi simbolik.
Menurut Herbert Blumer, Proposisi paling mendasar dari interaksi simbolik adalah perilaku dan interaksi manusia itu dapat dibedakan, karena dapat ditampilkan lewat symbol dan maknanya. Salah satu proposisi yang digunakan dalam interaksi simbolik ini yakni  "Perilaku manusia itu berlaku berdasar penafsiran fenomenologik, yaitu berlangsung atas maksud, pemaknaan, dan tujuan, bukan didasarkan atas proses mekanik dan otomatis". Sehingga sangatlah jelas bahwa segala bentuk komunikasi yuang dilakukan oleh individu itu mengandung makna baik disadari maupun tidak. Dan makna tersebut bersifat murni atau tidak dapat dibuat-buat, artinya makna tersebut benar-benar mencerminkan kondisi yang sebenarnya dan maksud yang jujur.

Senin, 07 Juli 2014

Image Organisasi Kemahasiswaan di Mata Mahasiswa Apatis



Di era modern ini, mahasaiswa sangatlah jauh berbeda dengan era-era reformasi atau bahkan orde baru belasan tahun yang lalu. Bagaimana tidak, mahasiswa yang jati dirinya adalah sebagai kaum intelektual, masyarakat ilmiah, dengan pola pikir yang seharusnya kritis, kini hanya segelintir saja yang masih berada di jalur jati diri tersebut. Pasalnya, era modern ternyata membawa dampak bagi mahasiswa yang mana seringkali status sebagai mahasiswa trsebut disalahgunakan sebagai status yang bergengsi, atau bahkan juga sekedar mengejar sebuah ijazah.
Jika dikaitkan, di lingkungan kampus tentunya terdapat organisasi kemahasiswaan yang tentunya sangat beragam, mulai dari Badan Eksekutiv Mahasiswa ( BEM ), organisasi-organisasi UKM, organisasi jurusan, komunitas-komunitas, bahjkan organisasi ekstra maupun orda. Namun ternyata, mahasiswa yang berperan aktiv di dalam organisasi-organisasi tersebut hanyalah mahasiswa tertentu saja. Atau bahkan, organisasi tersebut memiliki banyak anggota namun juga sekedar anggota, tak ingin berperan aktiv, atau aktiv pun hanya karena motif persuasif, bahkan mode. Mirisnya kondisi ini, membuat para mahasiswa aktivis gigit jari. Bagaimana bisa sebutan sebagai "mahasiswa" yang dipikul bersama-sama ternyata hanya dipraktikan oleh kaum tertentu saja. Saat ini, mahasiswa yang apatis atau tak mau tau sudah mulai menjamur. Ada beberapa motif yang melatarbelakangi kondisi demikian. Diantaranya, beberapa memiliki niat hanya untuk belajar menekuni bidangnya serta memprioritaskan akademik tanpa mau ikut andil dan kerepotan di dalam organisasi, sehingga hal ini membuat mereka hanya menjadi mahasiswa ku-pu-ku-pu (kuliah-pulang-kuliah-pulang). Mahasiswa model seperti ini memandang organisasi kemahasiswaan adalah suatu pekerjaan yang merepotkan, menyita waktu, tenaga, bahkan materi. Sehingga mereka hanya pasif dan menjadi peserta atau penonton di berbagai kegiatan yang diadakan oleh organisasi mahasiswa semata-mata karena tuntutan SKK atau persyaratan lain. Jika dilihat dari sudut pandang mahasiswa apatis, ternyata image organisasi kemahasiswaan ditentukan oleh track record di kampus, serta seberapa jauh dan sering organisasi terebut mengadakan sebuah kegiatan ataupun berperan, serta muncul di permukaan. Namanya saja mahasiswa apatis, sehingga tak mau tau dengan carut marut atau keistimewaan-keistimewaan yang ada di lingkup organisasi, yang dipandang adalah dari segi luar ataupun permukaan. Semakin sering suatu organisasi menampilkan dirinya atau eksis di depan publik, maka semakin dikenal dan diakuilah organisasi tersebut tanpa mengkritisisasi organisasi dengan ideologi apakah itu. Mahasiswa seperti ini mudah terombang-ambing dan dipropaganda oleh mahasiswa  yang kritis dan organisatoris.
Padahal, jika dikritisi bisa saja organisasi-organisasi tersebut memiliki motif yang terselubung namun mahasiswa apatis tidak mengerti, atau sebaliknya organisasi-organisasi yang kurang muncul di pandangan kaum apatis dianggap tidak ada, bahkan dianggap organisasi yang pasif tidak pernah menunjukkan eksistensinya. Hal seperti ini sangatlah negatif demi keberlangsungan image suatu organisasi mahasiswa. Sehingga, ada baiknya organisasi-organisasi tersebut menunjukkan keberadaannya, menampilkan kegiatan-kegiatannya, serta berbaur dengan para mahasiswa dari berbagai kalangan dan golongan termasuk mahasiswa apatis, demi mejaga image kelestarian dan legitimasi keberadaannya.

Selasa, 17 Juni 2014

Etika dan Filsafat Kepemimpinan

Rabu, 11 Juni 2014

Tugas Ke 4

Etika dan Filsafat Kepemimpinan

Stereotipe Visioner Leadership, menjadikan motivasi  saudara sebagai agent of change and development secara akuntabel dengan harapan ransformational leadership dalam Proses Belajar dan Mengajar baik ilmu maupun seni menjadikan saudara “SMART Leadership”.

Tugas/pertanyaan:
1.  Jelaskan makna konsep tersebut di atas !
2.  Faktor-2 apa saja yang mendukung ?
3.  Faktor apa saja yang menghambat ?
4.  Serta bagaimana pemecahannya ?

Keterangan:
1.  Jawaban soal nomor satu langsung di jawab pada komentar di blog dosen l pengampu;
2.  Soal nomo 2, 3,4, dijawab melalui Blogg Masing-2 mahasiswa, dan diprint out, dikumpulkan tanggal 19 Juni 2014. Terimakasih.
Jawaban :
1. Makna dari konsep tersebut di atas yakni bahwa Stereotip Visioner Leadership merupakan kepemimpinan yang memiliki visi serta membawa bawahan untuk dinilai maupun memiliki citra tertentu sehingga menimbulkan suatu persepsi. Nah persepsi disini bisa positif dan juga bisa negatif, sehingga hal ini memotivasi diri kita untuk menjadi agent of change and development yang mampu untuk memimpin dirinya serta membawa bawahannya ke arah persepsi yang positif serta bergerak bersama untuk mencapai visi tersebut.
Dan juga, dengan hal demikian menuntut kita untuk dapat menjadi seorang pemimpin yang mampu untuk mewujudkan visi dengan menggerakkan bawahan dengan ilmu serta membuat bawahan maupun kelompok untuk memperoleh suatu persepsi atau citra yang baik tentunya dengan menggunakan seni dalam memimpin.
2. Faktor’’ yang mendukung :
v  Pegangan teori kepemimpinan yang kita dapat di perkuliahan
v  Pengalaman kepemimpinan yang diperoleh dari berproses di berbagai organisasi
v  Ide dan keinginan kuat dari dalam diri yang mendorong untuk berkreasi di dalam kepemimpinan untuk menciptakan sesuatu yang baru
3. Faktor’’ yang menghambat :
v  Beban tanggung jawab yang terkadang mempengaruhi psikologi pemimpin, sehingga seringkali mengalami dilema di dalam proses kepemimpinan
v  Komunikasi yang terkadang kurang efektif, ataupun kurangnya simpati di dalam proses untuk mencapai suatu tujuan

4. Solusinya adalah dengan mempererat jalinan komunikasi antara pimpinan dengan bawahan serta mengingat kembali tujuan awal terhadap visi serta komitmen dalam memimpin dan membawa perubahan.



Rabu, 21 Mei 2014

Tugas 3 (ketiga) Etika dan Filsafat Kepemimpinan

Sugeng Rusmiwari: Tugas 3 (ketiga) Etika dan Filsafat Kepemimpinan



Nama : Adnin Ridha Rerifki

NIM   : 2013210004

Semester : 2



Tugas 3 (ketiga) Etika dan Filsafat Kepemimpinan
MAKNA KOMPETENSI
Kompetensi adalah
seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggungjawab yang dimiliki seseorang
sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan
tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu
(SK Mendiknas No.
045/U/2002, Ps. 21)
Tugas / pertanyaan:
1.      
Susun 2 (dua) capaian kompetensi Etika dan
Filsafat Kepemimpinan yang ingin saudara capai dari pendekatan
Ilmu/Pengetahuan;
2.      
Susun 2 (dua) capaian kompetensi Etika dan
Filsafat Kepemimpinan yang ingin saudara capai dari pendekatan Ketrampilan;
3.      
Susun 2 (dua) capaian kompetensi Etika dan
Filsafat Kepemimpinan yang ingin saudara capai dari pendekatan Sikap / Perilaku;
4.      
Susun / desain model kompetensi Etika dan
Filsafat Kepemimpinan yang saudara unggulkan dan lakukan dalam uji kompetensi
akhir semester (dapat berupa bagan atau yang lain).
Keterangan:
1.      
Seluruh tugas tersebut di atas wajib dikerjakan;
2.      
Pilih salah satu tugas tersebut di atas masuk
dalam komentar dosen, disertai deskripsinya.
3.      
Hasi tugas dikumpulkan tanggal 22 Mei 2014;
4.      
Keterlambatan dari tanggal tersebut tidak
diterima.



Jawaban :

1. * Capaian kompetensi etika dan filsafat kepemimpinan dari pendekatan ilmu/pengetahuan :

    - Mampu menguasai teori kepemimpinan, seperti teori x,y,z dan
sebagainya karena sangatlah banyak orang yang menjadi pemimpin namun
yang disayangkan adalah kurang mengetahui dasar teori kepemimpinan,
sehingga kurang mempunyai pedoman dalam memimpin.

    -  Mampu mengetahui mana pemimpin yang benar-benar sesuai dengan
teori kepemimpinan dan bersifat kondisional sesuai keadaan serta
dibutuhkan, sehingga sangatlah baik apabila di mata kuliah ini
benar-benar dapat mengetahui berbagai metode maupun teknik kepemimpinan
yang baik dan efektif efisien.

2.* Capaian kompetensi etika dan filsafat kepemimpinan dari pendekatan Ketrampilan :

   - Terampil dalam mengorganisir serta menjalankan kepemimpinan yang
efektif dengan menerapkan ketiga gaya kepemimpinan secara berselingan
sesuai situasi dan kondisi serta sesuai dengan kebutuhan.

   - Terampil dalam mempengaruhi dan memberikan saran, masukan,
dorongan, serta memotivasi bawahan dan membuka serta meningkatkan style
masing-masing bawahan dengan gaya komunikasi yang efektif dan sesuai .

3. * Capaian kompetensi etika dan filsafat kepemimpinan dari pendekatan Sikap/perilaku :

    - Mampu bersikap professional dengan ketiga gaya kepemimpinan serta
berada di depan bawahan untuk mampu memberikan arahan, mampu berada di
tengah-tengah bawahan untuk berbaur dan tidak membeda-bedakan serta
dapat meningkatkan atau menjadikan suatu nyala kesadaran, dan juga mampu
berada di belakang bawahan untuk dapat mendukung dan memotivasi.

   - Mampu bersikap sederhana namun elegan. Banyak sekali buku yang saya
baca menjelaskan bahwa mayoritas orang sukses bukanlah ditentukanoleh
seberapa cerdas orang tersebut dalam intelektual, namun seberapa cerdas
orang tersebut dalam bersikap. Ya, Attitude adalah hal yang paling utama
bagi saya. Dengan attitude, seseorang dapat mempengaruhi dan memberikan
persepsi. Lebih-lebih di dalam kepemimpinan, sikap yang sederhana akan
menjadi elegan ketika dihiasi dengan etika dan kecerdasan dalam
pengambilan sikap. Menurut saya, Sehingga bagi saya rencana dalam
pencapaian dalam kompetensi etika dan filsafat ini adalah melalui
pendekatan sikap/perilaku yang saya prioritakan karena prinsip saya
dengan sikap sederhana sangatlah perlu untuk tidak menjadi pemimpin yang
arogan dan terlalu diunggulkan, namun menjadi pemimpin yang mampu
menjadi sahabat bagi sesama.

4. Kompetensi Etika dan Filsafat Kepemimpian yang Diunggulkan >
Pendekatan Sikap > Sederhana namun elegan > 1. Depan (Pengaruh dan
Pengarahan) - 2. Tengah (Api kesadaran dan Sahabat bagi bawahan) - 3.
Belakang ( Motivator) > Implementasi > Belajar dan Berproses

Tugas 3 (ketiga) Etika dan Filsafat Kepemimpinan



Tugas 3 (ketiga) Etika dan Filsafat Kepemimpinan
MAKNA KOMPETENSI
Kompetensi adalah seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggungjawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu
(SK Mendiknas No. 045/U/2002, Ps. 21)
Tugas / pertanyaan:
1.       Susun 2 (dua) capaian kompetensi Etika dan Filsafat Kepemimpinan yang ingin saudara capai dari pendekatan Ilmu/Pengetahuan;
2.       Susun 2 (dua) capaian kompetensi Etika dan Filsafat Kepemimpinan yang ingin saudara capai dari pendekatan Ketrampilan;
3.       Susun 2 (dua) capaian kompetensi Etika dan Filsafat Kepemimpinan yang ingin saudara capai dari pendekatan Sikap / Perilaku;
4.       Susun / desain model kompetensi Etika dan Filsafat Kepemimpinan yang saudara unggulkan dan lakukan dalam uji kompetensi akhir semester (dapat berupa bagan atau yang lain).
Keterangan:
1.       Seluruh tugas tersebut di atas wajib dikerjakan;
2.       Pilih salah satu tugas tersebut di atas masuk dalam komentar dosen, disertai deskripsinya.
3.       Hasi tugas dikumpulkan tanggal 22 Mei 2014;
4.       Keterlambatan dari tanggal tersebut tidak diterima.

Jawaban :
1. * Capaian kompetensi etika dan filsafat kepemimpinan dari pendekatan ilmu/pengetahuan :
    - Mampu menguasai teori kepemimpinan, seperti teori x,y,z dan sebagainya karena sangatlah banyak orang yang menjadi pemimpin namun yang disayangkan adalah kurang mengetahui dasar teori kepemimpinan, sehingga kurang mempunyai pedoman dalam memimpin.
    -  Mampu mengetahui mana pemimpin yang benar-benar sesuai dengan teori kepemimpinan dan bersifat kondisional sesuai keadaan serta dibutuhkan, sehingga sangatlah baik apabila di mata kuliah ini benar-benar dapat mengetahui berbagai metode maupun teknik kepemimpinan yang baik dan efektif efisien.
2.* Capaian kompetensi etika dan filsafat kepemimpinan dari pendekatan Ketrampilan :
   - Terampil dalam mengorganisir serta menjalankan kepemimpinan yang efektif dengan menerapkan ketiga gaya kepemimpinan secara berselingan sesuai situasi dan kondisi serta sesuai dengan kebutuhan.
   - Terampil dalam mempengaruhi dan memberikan saran, masukan, dorongan, serta memotivasi bawahan dan membuka serta meningkatkan style masing-masing bawahan dengan gaya komunikasi yang efektif dan sesuai .
3. * Capaian kompetensi etika dan filsafat kepemimpinan dari pendekatan Sikap/perilaku :
    - Mampu bersikap professional dengan ketiga gaya kepemimpinan serta berada di depan bawahan untuk mampu memberikan arahan, mampu berada di tengah-tengah bawahan untuk berbaur dan tidak membeda-bedakan serta dapat meningkatkan atau menjadikan suatu nyala kesadaran, dan juga mampu berada di belakang bawahan untuk dapat mendukung dan memotivasi.
   - Mampu bersikap sederhana namun elegan. Banyak sekali buku yang saya baca menjelaskan bahwa mayoritas orang sukses bukanlah ditentukanoleh seberapa cerdas orang tersebut dalam intelektual, namun seberapa cerdas orang tersebut dalam bersikap. Ya, Attitude adalah hal yang paling utama bagi saya. Dengan attitude, seseorang dapat mempengaruhi dan memberikan persepsi. Lebih-lebih di dalam kepemimpinan, sikap yang sederhana akan menjadi elegan ketika dihiasi dengan etika dan kecerdasan dalam pengambilan sikap. Menurut saya, Sehingga bagi saya rencana dalam pencapaian dalam kompetensi etika dan filsafat ini adalah melalui pendekatan sikap/perilaku yang saya prioritakan karena prinsip saya dengan sikap sederhana sangatlah perlu untuk tidak menjadi pemimpin yang arogan dan terlalu diunggulkan, namun menjadi pemimpin yang mampu menjadi sahabat bagi sesama.
4. Kompetensi Etika dan Filsafat Kepemimpian yang Diunggulkan > Pendekatan Sikap > Sederhana namun elegan > 1. Depan (Pengaruh dan Pengarahan) - 2. Tengah (Api kesadaran dan Sahabat bagi bawahan) - 3. Belakang ( Motivator) > Implementasi > Belajar dan Berproses

Rabu, 07 Mei 2014

Kepemimpinan Visioner


                                                  KEPEMIMPINAN VISIONER

Setiap pemimpin membentuk visi dengan caranya masing-masing, kadang-kadang bersifat obyektif dan rasional, kadang-kadang intuitif dan subyektif.
Tindakan tanpa visi sama artinya dengan terjebak dalam kegelapan dan visi tanpa tindakan adalah seperti puisi yang meratapi kemiskinan.
Secara sederhana, visi adalah masa depan yang realistis, dapat dipercaya, dan menarik bagi organisasi anda. (Burt Nanus, 2001, Kepemimpinan Visioner, Penerbit PT Prelindo, Jakarta).

Tugas2.
1.       Susun visi, misi dan strategi anda, dalam mepersiapkan diri sebagai agent of change and development ?
2.       Apakah faktor-faktor pendukung dan penghambat dalam merealisasikan visi saudara tersebut?
3.       Bagaimana mengatisipasi faktor pendukung tersebut agar tidak menimbulkan arogansi ?
4.       Dan bagaimana pula mengorganisir faktor penghambat agar tidak menimbulkan sikap apatis ?
5.       Konflik akan selalu terjadi pada setiap orang yang akan melakukan perubahan, bagaimana caranya agar potensi konflik tersebut dapat menjadi daya dorong susksesnya visi saudara ?

Keterangan:
1.       Khusus jawaban soal nomor 5, dimasukkan pada komentar blog dosen pengampu, dan blognya mahasiswa masing-masing mahasiswa, dan;
2.       Seluruh jawaban diserahkan pada pertemuan tanggal 8 Mei 2014.

J JAWABAN :
1  1. *Visi saya : Dosen PNS Termuda
       *Misi saya:
  •  Memperluas relasi dan jaringan yang bermanfaat
  •  Meningkatkan skill public speaking
  •  Menguasai bahasa asing 
  •  Menulis buku
  *Strategi saya :
  • Senantiasa bersyukur dan berdo'a kepada Allah
  •  Memperluas relasi dan jaringan yang bermanfaat
  •  Meningkatkan pengetahuan, wawasan, dan skill
  •  Tetap berproses dan belajar
  •  Perhatian terhadap keluarga dan Do'a Orang Tua
  •  Aktiv organisasi radio dan ekstra
2.  *Faktor Pendorong dalam merealisasikan mimpi :
  • Sukses saya bermanfaat bagi sesama
  • Merupakan cita'' saya sejak kecil
  • Profesi dosen sangat mulia
  • Ilmu bermanfaat
  • Serta jiwa saya terdorong untuk membagikan ilmu ke sesama
     *Faktor Penghambat dalam merealisasikan mimpi :
  • Kurangnya kepercayaan diri terhadap ilmu dan teori'' ilmiah
  • Kurangnya kepercayaan diri dalam memberikan materi
  • Skill berbicara yang masih harus terus ditingkatkan
  • Terlalu demokratis dan kurangnya ketegasan.
3. Dalam mengantisipasi faktor pendukung agar tidak menjadikan arogansi adalah selalu ingat bahwa apa yang kita citakan juga ditentukan oleh banyak faktor, diantaranya Ridho Allah SWT dan ridho orang tua, serta cita-cita akan tercapai dengan sendirinya sesuai dengan faktor kepantasan dan kesesuaian, dan juga sejauh mana kita berusaha serta lingkungan membawa apa yang telah kita upayakan tersebut.
4. Mengkoordinir faktor penghambat agar tidak menjadi apatis adalah dengan :
  • Selalu berharap dan memohon bahwa tiada daya dan upaya selain Allah SWT
  • Takdir seseorang tidak ada yang mengetahui, dan tergantung bagaimana kita berusaha dan berdo'a
  • Senantiasa optimis dan menanamkan setiap visi di dalam alam bawah sadar dan menggantung visi tersebut beberapa senti di depan kepala
  • Menuliskan mimpi-mimpi tersebut di selembar kertas dan percaya bahwa dengan persepsi positif yang telah ditanamkan ke dalam alam bawah sadar, secara ajaib alam akan membawa kita kepada apa yang telah kita mimpikan
 5.  Setiap individu memiliki visi ke depan yang berkaitan dengan perubahan. Tergantung perubahan apakah yang akan diciptakan, ntah itu perubahan yang biasa-biasa saja, maupun yang luar biasa. Tentunya, di dalam proses perjalanan menuju suatu visi tersebut ditemui yang namanya konflik. Dimana, konflik akan timbul saat seorang individu merencanakan suatu perubahan, terutama perubahan yang besar. Sehingga konflik ini merupakan bagian dari proses mencapai visi yang dilalui dengan sebuah tekad perubahan serta dijadikan sebagai esensi ataupun hal yang wajar ketika seorang individu memang benar-benar bertekad untuk membuat suatu perubahan. Artinya, setiap individu tersebut akan mengalami suatu proses pendewasaan yang diperoleh melalui konflik serta pengalaman yang dapat dijadikan hikmah dalam perjalanan menuju suatu visi yang baik serta perubahan yang besar. Jika dikaji, konflik merupakan bagian dari kehidupan seorang manusia, yang mana hal itu akan timbul ketika terdapat ketidaksesuaian antara apa yang diinginkan dengan realitas yang ada. Namun, kembali lagi terhadap individu masing-masing, bagaimana ia memandang konflik di luar dirinya, dan bagaimana ia sebisa mungkin mengendalikan dan meminimalisir konflik tersebut dengan cara menanamkan persepsi serta pola pikir yang positif dan optimis bahwa konflik bukanlah suatu penghambat, melainkan konflik merupakan suatu proses yang alamiah dalam perjalanan menuju suatu visi perubahan. Sehingga, hal ini dapat dijadikan sebagai daya dorong dan daya ukur bahwa dengan semakin besarnya konflik, sehingga dapat diketahui semakin besar pula tingkat kematangan dan kedewasaan seorang individu dalam berproses untuk mencapai suatu visi dan perubahan yang besar.
Nama : Adnin Ridha Rerifki
NIM : 2013210004
Jawaban Nomor 5 :
Setiap individu memiliki visi ke depan yang berkaitan dengan perubahan. Tergantung perubahan apakah yang akan diciptakan, ntah itu perubahan yang biasa-biasa saja, maupun yang luar biasa. Tentunya, di dalam proses perjalanan menuju suatu visi tersebut ditemui yang namanya konflik. Dimana, konflik akan timbul saat seorang individu merencanakan suatu perubahan, terutama perubahan yang besar. Sehingga konflik ini merupakan bagian dari proses mencapai visi yang dilalui dengan sebuah tekad perubahan serta dijadikan sebagai esensi ataupun hal yang wajar ketika seorang individu memang benar-benar bertekad untuk membuat suatu perubahan. Artinya, setiap individu tersebut akan mengalami suatu proses pendewasaan yang diperoleh melalui konflik serta pengalaman yang dapat dijadikan hikmah dalam perjalanan menuju suatu visi yang baik serta perubahan yang besar. Jika dikaji, konflik merupakan bagian dari kehidupan seorang manusia, yang mana hal itu akan timbul ketika terdapat ketidaksesuaian antara apa yang diinginkan dengan realitas yang ada. Namun, kembali lagi terhadap individu masing-masing, bagaimana ia memandang konflik di luar dirinya, dan bagaimana ia sebisa mungkin mengendalikan dan meminimalisir konflik tersebut dengan cara menanamkan persepsi serta pola pikir yang positif dan optimis bahwa konflik bukanlah suatu penghambat, melainkan konflik merupakan suatu proses yang alamiah dalam perjalanan menuju suatu visi perubahan. Sehingga, hal ini dapat dijadikan sebagai daya dorong dan daya ukur bahwa dengan semakin besarnya konflik, sehingga dapat diketahui semakin besar pula tingkat kematangan dan kedewasaan seorang individu dalam berproses untuk mencapai suatu visi dan perubahan yang besar.

Rabu, 23 April 2014

Jawaban UTS mata kuliah Etika dan Filsafat Kepemimpinan

 Jawaban UTS mata kuliah Etika dan Filsafat Kepemimpinan 

Nama : Adnin Ridha Rerifki

NIM   : 2013210004

Prodi  : Ilmu Administrasi Negara

Tugas 1, Etika dan Filsafat Kepemimpinan, April 2014


Tugas 1, Etika dan Filsafat Kepemimpinan
Pada dasarnya Saudara dicetak menjadi Pemimpin, dengan berkompetensi Kepemimpinan, dengan nilai lebih pada Etika dan Filsafat Kepemimpinan yang didasarkan pada teori sifat-sifat pemimpin, dengan harapan beraplikasi pada perilaku kepemimpinan situasional, sehingga ada keterikatan baik emosional maupun kontingensi tujuan baik individu maupun organisasi, melalui proses tingkat kematangan kompetensi yang ditunjang motivasi menjadikan diri pemimpin yang melayani dalam sistem kepemimpian.

Tugas:
1.       Lakukan analisis singkat atas konsep tersebut di atas. (jawaban soal no 1 ini setelah diserahkan secara fisik/tertulis, dimasukkan pada komentar, dan diunggah pada blog masing-2 mahasiswa, print out bukti unggah);
2.       Berikan contoh satu sikap dan perilaku, yang saudara lakukan dalam komitmen pemimpin yang berkompeten dengan nilai etika dan filsafat kepemimpinan dalam kehidupan se-hari-2 saudara secara situasional;
3.       Tingkat kematangan pemimpin, akan terlihat pada proses kepemimpinan dalam sikap, perilaku dan tindakan pengambilan keputusan, apakah usulan saudara agar mahasiswa dapat mencapai tujuan tersebut ?
J    Jawaban :
8   1. Setiap individu merupakan seorang pemimpin secara alamiah, namun tidak semua individu memilki jiwa kepemimpinan. Oleh karena itu penting adanya pembelajaran atau pelatihan kepemimpinan yang didasarkan pada etika, bahwa dari etika itulah seorang pemimpin akan mempelajari dan mengetahui mengenai sifat-sifat dan teori kepemimpinan. Kepepmimpinan yang baik, adalah kepoemimpinan yang situasional, dimana seorang pemimpin dapat mengambil keputusan dengan menggunakan gaya kepemimpinan yang berbeda sesuai dengan situasi serta kondisi yang dihadapinya. Menurut penelitian Universitas OHIO, bahwa gaya kepemimpinan ada 3 : yakni Otoriter, Demokratis, dan Liberal. Ini artinya bahwa setiap pemimpin dapat menerapkan ketiga gaya tersebut secara bergantian di dalam situasi dan kondisi yang diperlukan.
     Ketiga gaya kepemimpinan tersebut memiliki fungsi yang berbeda namun memiliki suatu tujuan yang sama, yakni menjadikan para pemimpin mampu melayani dengan baik di dalam kepemimpinannya.
  2. Di dalam kehidupan sehari-hari saya masih dalam tahap belajar serta berproses khususnya di dalam komitmen pemimpin yang berkompeten. Seringkali saya menggunakan gaya kepemimpinan yang otoriter dan liberal dalam memimpin diri saya sendiri, dan menggunakan gaya kepemimpinan yang demokratis terhadap sesama . Ini disebabkan kurangnya rasa tega saya terhadap sesama, namun saya mengharuskan suatu pencapaian dan otorisasi di dalam diri saya. Kepemimpinan demokratis yang seringkali saya terapkan terhadap sesama saya adalah karena saya ingin selalu menghargai serta menoleransi sesama, dan juga saya menyadari apabila saya diperlakukan otoriter pun kurang begitu mengena, sehingga saya juga memperlakukan sesama sebagaimana saya menempatkan diri sendiri. Hal ini menjadikan pembelajaran yang terus berlanjut di dalam kehidupan sehari-hari saya khususnya di dalam etika kepemimpinan.
     3. Jujur saja, saya selalu menerapkan gaya kepemimpinan yang demokratis terhadap sesama, namun demikian menjadikan saya harus mengimbanginya dengan ketegasan yang ada di dalam gaya kepemimpinan otoriter. Tingkat kematangan seorang pemimpin, memang dapat dilihat di dalam sikap, perilaku, dan pengambilan keputusan. Namun, seorang mahasiswa takkan mampu untuk  matang di dalam kepemimpinan apabila tanpa mengalami suatu proses yang panjang. Dimana untuk menjadi seorang pemimpin yang efektif dan baik, bukan tidak mungkin tidak pernah melakukan suatu kesalahan. Pemimpin adalah manusia yang tidak selalu benar, namun berusaha untuk menjadi benar. Pemimpin yang benar, pasti pernah mengalami suatu kesalahan di dalam proses kepemimpinannya,pun demikian dengan pemimpin yang baik juga pasti belajar melalui keburukan di dalam prosesnya. Sehingga meurut saya, mahasiswa harus benar-benar dilatih di dalam proses kepemimpinannya dengan selalu diberikan uji coba dalam kepemimpinan, diberikan toleransi apabila melakukan kesalahan di dalam proses pembelajarannya, serta terus dievaluasi,, dimotivasi, dan senantiasa diberikan contoh kepemimpinan yang baik.




J

Selasa, 14 Januari 2014

Menjadi Agent of Change and Development



                                          

Berdasarkan fakta yang terjadi akhir-akhir ini peran mahasiswa sebagai pembawa perubahan (agent of change) selalu dilakukan melalui aksi-aksi turun ke jalan. Pemikiran tersebut tidak produktif dan cendrung reaktif, bahkan terkadang mahasiswa ricuh dan meresahkan masyarakat ketika turun aksi. Padahal sebagai agent of change seyogyanya berfikir ke depannya bagaimana merubah keadaan bangsa lebih baik dari sebelumnya. Mahasiswa seperti itu harus di re-interpretasikan sebagai aktor intelektual, yang dapat memberikan solusi konkrit tentang realitas yang ada. Bukan sekadar wacana mengambang, atau alternatif solusi dari hasil analisis yang tidak bisa di pertanggung jawabkan. Agen Perubahan dituntut memahami peran dirinya sebagai pembangkit kesadaran diri untuk berubah, juga sebagai elemen yang mentransformasikan tahapan niat menjadi tindakan nyata dan oleh sebab itu para Agen Perubahan dituntut mempunyai kredibilitas sosial target perubahan. Sebagai aktor intelektual mahasiswa mempunyai peran penting dalam membangun perubahan bangsa ini. Sudah semestinya mahasiswa ada dan berbuat untuk memajukan masyarakat bangsa Indonesia. Tri Dharma Perguruan Tinggi; Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian mahasiswa terhadap Masyarakat mempunyai peran strategis dalam memperdayakan masyarakat. Melalui pendidikan mahasiswa sebagai agent of change and development yang efisien dapat memajukan masyarakat dan mencerdaskan anak bangsanya. Tentunya hal ini sudah menjadi tugas penting dari setiap mahasiswa, karena fungsi mahasiswa adalah peran pentingnya di dunia pendidikan agar memajukan pendidikan khususnya di Indonesia. Pendidikan adalah locus utama mahasiswa dalam berjuang dan mengabdi pada masyarakat. Sebagai agent of change Penelitian dijadikan jalan bagi mahasiswa itu sendiri untuk menemukan daya cipta dan inovasi-inovasi baru bagi kemajuan masyarakat. tentunya penelitian tersebut harus disesuaikan dengan kebutuhan geografis dan kearifan lokal yang ada pada Masyarakat. Menurut motivator sekaligus pakar kepemimpinan terkenal yakni Dr.Jhon C.Maxwel dalam bukunya Thingking For Change, untuk dapat mengubah hidup seseorang, perlu kiranya mengubah cara berfikir kita, karena dengan mengubah cara berfikir dapat juga mengubah keyakinan kita. Sehingga, apabila di dalam diri kita telah tertanam pola pikir kepemimpinan, maka secara tidak langsung pola pikir tersebut juga akan mempengaruhi dan melekat pada diri seseorang. Pola pikir pada diri seseorang, akan berbentuk menjadi sebuah perkataan dan perbuatan, maka dari itu perlu adanya penanaman pola pikir kepemimpinan pada diri seseorang. Peran mahasiswa disini dalam menyongsong dan melihat kenyataan bahwa dirinya merupakan calon Agent of Change and Development yakni menanamkan pola pikir dan jiwa kepemimpinan sebagai dasar dalam dirinya. Oleh karena itu, pernyataan Dr. Maxwell ini memberikan penjelasan bahwa perubahan diri selalu dimulai dengan adanya perubahan pola fikir dalam diri kita. Sedangkan perubahan pola fikir seseorang dapat diawali dengan membuka hati dan lebih mendengarkan kata hati sendiri. Menguasai diri sendiri sangat penting bagi seorang mahasiswa untuk menjadi seorang pemimpin sekaligus sebagai agent of change demi menciptakan masa depan, Karena masa depan adalah suatu pilihan keadaan yang sedang kita ciptakan. Pertaman-tama, ciptakan impian dalam hati dan pikiran, sesudah itu wujudkan melalui aktivitas dan tindakan.
 Agent of Change and Development memang tidak harus berkecimpung di dalam dunia politik, namun seorang agent of change ini adalah mampu berada di segala bidang dan memiliki nilai pokok yang tertanam di dalam dirinya yakni Kepemimpinan. Seorang pemimpin yang dikatakan efektif dan efisien adalah meraka ang dapat mengambil keputusan dengan tepat dan dapat membuat kebijakan yang tepat pula. Untuk dapat mengambil keputusan dengan tepat inilah seorang leader memang harus melatih dirinya baik dari segi mental,pengetahuan,maupun pengalaman.Seorang pemimpin yang dapat diakatakan sebagai Agent of Change and Development adalah mereka yang dapat membawa perubahan ke arah lebih baik baik bagi dirinya maupun orang lain, serta mampu untuk mempengaruhi lingkungannya ke arah lebih maju dikarenakan telah tertanam kepemimpinan di dalam dirinya. Gaya kepemimpinan yang diharapkan untuk menjadi agen perubahan di masa kini adalah  mereka yang adil,fleksibel,dan tidak membedakan Gender,HAM,dan Pembangunan, artinya seorang pemimpin tersebut haruslah memimpin dan fokus untuk perkembangan ke arah yang lebih baik dengan mampu mengambil keputusan yang tepat serta tidak membedakan dan mampu mendampingi masyarakat dalam upaya mencari solusi serta pengambilan keputusan. Dari pendampingan yang diharapkan oleh masyarakat inilah sudah sangat jelas bahwa sudah menjadi keharusan seorang pemimpin untuk dapat melayani masyarakat, ini membuktikan bahwa agent of change yang dibutuhkan adalah mereka yang memiliki jiwa kepemimpinan dengan gaya kepemimpinan yang luwes,merakyat,dan mampu melayani masyarakat juga tanpa membedakan ras,suku,agama,gender,HAM,dan pembangunan
Sugeng Rusmiwarisugengrusmiwari@yahoo.co.idsugengrusmiwari@yahoo.com