Senin, 07 Juli 2014

Image Organisasi Kemahasiswaan di Mata Mahasiswa Apatis



Di era modern ini, mahasaiswa sangatlah jauh berbeda dengan era-era reformasi atau bahkan orde baru belasan tahun yang lalu. Bagaimana tidak, mahasiswa yang jati dirinya adalah sebagai kaum intelektual, masyarakat ilmiah, dengan pola pikir yang seharusnya kritis, kini hanya segelintir saja yang masih berada di jalur jati diri tersebut. Pasalnya, era modern ternyata membawa dampak bagi mahasiswa yang mana seringkali status sebagai mahasiswa trsebut disalahgunakan sebagai status yang bergengsi, atau bahkan juga sekedar mengejar sebuah ijazah.
Jika dikaitkan, di lingkungan kampus tentunya terdapat organisasi kemahasiswaan yang tentunya sangat beragam, mulai dari Badan Eksekutiv Mahasiswa ( BEM ), organisasi-organisasi UKM, organisasi jurusan, komunitas-komunitas, bahjkan organisasi ekstra maupun orda. Namun ternyata, mahasiswa yang berperan aktiv di dalam organisasi-organisasi tersebut hanyalah mahasiswa tertentu saja. Atau bahkan, organisasi tersebut memiliki banyak anggota namun juga sekedar anggota, tak ingin berperan aktiv, atau aktiv pun hanya karena motif persuasif, bahkan mode. Mirisnya kondisi ini, membuat para mahasiswa aktivis gigit jari. Bagaimana bisa sebutan sebagai "mahasiswa" yang dipikul bersama-sama ternyata hanya dipraktikan oleh kaum tertentu saja. Saat ini, mahasiswa yang apatis atau tak mau tau sudah mulai menjamur. Ada beberapa motif yang melatarbelakangi kondisi demikian. Diantaranya, beberapa memiliki niat hanya untuk belajar menekuni bidangnya serta memprioritaskan akademik tanpa mau ikut andil dan kerepotan di dalam organisasi, sehingga hal ini membuat mereka hanya menjadi mahasiswa ku-pu-ku-pu (kuliah-pulang-kuliah-pulang). Mahasiswa model seperti ini memandang organisasi kemahasiswaan adalah suatu pekerjaan yang merepotkan, menyita waktu, tenaga, bahkan materi. Sehingga mereka hanya pasif dan menjadi peserta atau penonton di berbagai kegiatan yang diadakan oleh organisasi mahasiswa semata-mata karena tuntutan SKK atau persyaratan lain. Jika dilihat dari sudut pandang mahasiswa apatis, ternyata image organisasi kemahasiswaan ditentukan oleh track record di kampus, serta seberapa jauh dan sering organisasi terebut mengadakan sebuah kegiatan ataupun berperan, serta muncul di permukaan. Namanya saja mahasiswa apatis, sehingga tak mau tau dengan carut marut atau keistimewaan-keistimewaan yang ada di lingkup organisasi, yang dipandang adalah dari segi luar ataupun permukaan. Semakin sering suatu organisasi menampilkan dirinya atau eksis di depan publik, maka semakin dikenal dan diakuilah organisasi tersebut tanpa mengkritisisasi organisasi dengan ideologi apakah itu. Mahasiswa seperti ini mudah terombang-ambing dan dipropaganda oleh mahasiswa  yang kritis dan organisatoris.
Padahal, jika dikritisi bisa saja organisasi-organisasi tersebut memiliki motif yang terselubung namun mahasiswa apatis tidak mengerti, atau sebaliknya organisasi-organisasi yang kurang muncul di pandangan kaum apatis dianggap tidak ada, bahkan dianggap organisasi yang pasif tidak pernah menunjukkan eksistensinya. Hal seperti ini sangatlah negatif demi keberlangsungan image suatu organisasi mahasiswa. Sehingga, ada baiknya organisasi-organisasi tersebut menunjukkan keberadaannya, menampilkan kegiatan-kegiatannya, serta berbaur dengan para mahasiswa dari berbagai kalangan dan golongan termasuk mahasiswa apatis, demi mejaga image kelestarian dan legitimasi keberadaannya.