Di era modern
ini, mahasaiswa sangatlah jauh berbeda dengan era-era reformasi atau bahkan
orde baru belasan tahun yang lalu. Bagaimana tidak, mahasiswa yang jati dirinya
adalah sebagai kaum intelektual, masyarakat ilmiah, dengan pola pikir yang
seharusnya kritis, kini hanya segelintir saja yang masih berada di jalur jati
diri tersebut. Pasalnya, era modern ternyata membawa dampak bagi mahasiswa yang
mana seringkali status sebagai mahasiswa trsebut disalahgunakan sebagai status
yang bergengsi, atau bahkan juga sekedar mengejar sebuah ijazah.
Jika
dikaitkan, di lingkungan kampus tentunya terdapat organisasi kemahasiswaan yang
tentunya sangat beragam, mulai dari Badan Eksekutiv Mahasiswa ( BEM ),
organisasi-organisasi UKM, organisasi jurusan, komunitas-komunitas, bahjkan
organisasi ekstra maupun orda. Namun ternyata, mahasiswa yang berperan aktiv di
dalam organisasi-organisasi tersebut hanyalah mahasiswa tertentu saja. Atau
bahkan, organisasi tersebut memiliki banyak anggota namun juga sekedar anggota,
tak ingin berperan aktiv, atau aktiv pun hanya karena motif persuasif, bahkan
mode. Mirisnya kondisi ini, membuat para mahasiswa aktivis gigit jari.
Bagaimana bisa sebutan sebagai "mahasiswa" yang dipikul bersama-sama
ternyata hanya dipraktikan oleh kaum tertentu saja. Saat ini, mahasiswa yang
apatis atau tak mau tau sudah mulai menjamur. Ada beberapa motif yang
melatarbelakangi kondisi demikian. Diantaranya, beberapa memiliki niat hanya
untuk belajar menekuni bidangnya serta memprioritaskan akademik tanpa mau ikut
andil dan kerepotan di dalam organisasi, sehingga hal ini membuat mereka hanya
menjadi mahasiswa ku-pu-ku-pu (kuliah-pulang-kuliah-pulang). Mahasiswa model
seperti ini memandang organisasi kemahasiswaan adalah suatu pekerjaan yang
merepotkan, menyita waktu, tenaga, bahkan materi. Sehingga mereka hanya pasif
dan menjadi peserta atau penonton di berbagai kegiatan yang diadakan oleh
organisasi mahasiswa semata-mata karena tuntutan SKK atau persyaratan lain. Jika
dilihat dari sudut pandang mahasiswa apatis, ternyata image organisasi
kemahasiswaan ditentukan oleh track record di kampus, serta seberapa jauh dan
sering organisasi terebut mengadakan sebuah kegiatan ataupun berperan, serta
muncul di permukaan. Namanya saja mahasiswa apatis, sehingga tak mau tau dengan
carut marut atau keistimewaan-keistimewaan yang ada di lingkup organisasi, yang
dipandang adalah dari segi luar ataupun permukaan. Semakin sering suatu
organisasi menampilkan dirinya atau eksis di depan publik, maka semakin dikenal
dan diakuilah organisasi tersebut tanpa mengkritisisasi organisasi dengan
ideologi apakah itu. Mahasiswa seperti ini mudah terombang-ambing dan
dipropaganda oleh mahasiswa yang kritis dan organisatoris.
Padahal, jika
dikritisi bisa saja organisasi-organisasi tersebut memiliki motif yang
terselubung namun mahasiswa apatis tidak mengerti, atau sebaliknya
organisasi-organisasi yang kurang muncul di pandangan kaum apatis dianggap
tidak ada, bahkan dianggap organisasi yang pasif tidak pernah menunjukkan
eksistensinya. Hal seperti ini sangatlah negatif demi keberlangsungan image
suatu organisasi mahasiswa. Sehingga, ada baiknya organisasi-organisasi
tersebut menunjukkan keberadaannya, menampilkan kegiatan-kegiatannya, serta
berbaur dengan para mahasiswa dari berbagai kalangan dan golongan termasuk
mahasiswa apatis, demi mejaga image kelestarian dan legitimasi keberadaannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar