Jawaban UTS mata kuliah Etika dan Filsafat Kepemimpinan
Nama : Adnin Ridha Rerifki
NIM : 2013210004
Prodi : Ilmu Administrasi Negara
Tugas 1, Etika dan Filsafat Kepemimpinan, April 2014
Tugas 1, Etika dan Filsafat Kepemimpinan
Pada dasarnya Saudara dicetak menjadi Pemimpin, dengan
berkompetensi Kepemimpinan, dengan nilai lebih pada Etika dan Filsafat
Kepemimpinan yang didasarkan pada teori sifat-sifat pemimpin, dengan harapan
beraplikasi pada perilaku kepemimpinan situasional, sehingga ada keterikatan
baik emosional maupun kontingensi tujuan baik individu maupun organisasi,
melalui proses tingkat kematangan kompetensi yang ditunjang motivasi menjadikan
diri pemimpin yang melayani dalam sistem kepemimpian.
Tugas:
1.
Lakukan analisis singkat atas konsep tersebut di
atas. (jawaban soal no 1 ini setelah diserahkan secara fisik/tertulis,
dimasukkan pada komentar, dan diunggah pada blog masing-2 mahasiswa, print out
bukti unggah);
2.
Berikan contoh satu sikap dan perilaku, yang
saudara lakukan dalam komitmen pemimpin yang berkompeten dengan nilai etika dan
filsafat kepemimpinan dalam kehidupan se-hari-2 saudara secara situasional;
3.
Tingkat kematangan pemimpin, akan terlihat pada
proses kepemimpinan dalam sikap, perilaku dan tindakan pengambilan keputusan,
apakah usulan saudara agar mahasiswa dapat mencapai tujuan tersebut ?
J Jawaban :
8 1. Setiap individu merupakan seorang pemimpin secara alamiah, namun tidak semua individu memilki jiwa kepemimpinan. Oleh karena itu penting adanya pembelajaran atau pelatihan kepemimpinan yang didasarkan pada etika, bahwa dari etika itulah seorang pemimpin akan mempelajari dan mengetahui mengenai sifat-sifat dan teori kepemimpinan. Kepepmimpinan yang baik, adalah kepoemimpinan yang situasional, dimana seorang pemimpin dapat mengambil keputusan dengan menggunakan gaya kepemimpinan yang berbeda sesuai dengan situasi serta kondisi yang dihadapinya. Menurut penelitian Universitas OHIO, bahwa gaya kepemimpinan ada 3 : yakni Otoriter, Demokratis, dan Liberal. Ini artinya bahwa setiap pemimpin dapat menerapkan ketiga gaya tersebut secara bergantian di dalam situasi dan kondisi yang diperlukan.
Ketiga gaya kepemimpinan tersebut memiliki fungsi yang berbeda namun memiliki suatu tujuan yang sama, yakni menjadikan para pemimpin mampu melayani dengan baik di dalam kepemimpinannya.
2 2. Di dalam kehidupan sehari-hari saya masih dalam tahap belajar serta berproses khususnya di dalam komitmen pemimpin yang berkompeten. Seringkali saya menggunakan gaya kepemimpinan yang otoriter dan liberal dalam memimpin diri saya sendiri, dan menggunakan gaya kepemimpinan yang demokratis terhadap sesama . Ini disebabkan kurangnya rasa tega saya terhadap sesama, namun saya mengharuskan suatu pencapaian dan otorisasi di dalam diri saya. Kepemimpinan demokratis yang seringkali saya terapkan terhadap sesama saya adalah karena saya ingin selalu menghargai serta menoleransi sesama, dan juga saya menyadari apabila saya diperlakukan otoriter pun kurang begitu mengena, sehingga saya juga memperlakukan sesama sebagaimana saya menempatkan diri sendiri. Hal ini menjadikan pembelajaran yang terus berlanjut di dalam kehidupan sehari-hari saya khususnya di dalam etika kepemimpinan.
3. Jujur saja, saya selalu menerapkan gaya kepemimpinan yang demokratis terhadap sesama, namun demikian menjadikan saya harus mengimbanginya dengan ketegasan yang ada di dalam gaya kepemimpinan otoriter. Tingkat kematangan seorang pemimpin, memang dapat dilihat di dalam sikap, perilaku, dan pengambilan keputusan. Namun, seorang mahasiswa takkan mampu untuk matang di dalam kepemimpinan apabila tanpa mengalami suatu proses yang panjang. Dimana untuk menjadi seorang pemimpin yang efektif dan baik, bukan tidak mungkin tidak pernah melakukan suatu kesalahan. Pemimpin adalah manusia yang tidak selalu benar, namun berusaha untuk menjadi benar. Pemimpin yang benar, pasti pernah mengalami suatu kesalahan di dalam proses kepemimpinannya,pun demikian dengan pemimpin yang baik juga pasti belajar melalui keburukan di dalam prosesnya. Sehingga meurut saya, mahasiswa harus benar-benar dilatih di dalam proses kepemimpinannya dengan selalu diberikan uji coba dalam kepemimpinan, diberikan toleransi apabila melakukan kesalahan di dalam proses pembelajarannya, serta terus dievaluasi,, dimotivasi, dan senantiasa diberikan contoh kepemimpinan yang baik.
J
J Jawaban :
8 1. Setiap individu merupakan seorang pemimpin secara alamiah, namun tidak semua individu memilki jiwa kepemimpinan. Oleh karena itu penting adanya pembelajaran atau pelatihan kepemimpinan yang didasarkan pada etika, bahwa dari etika itulah seorang pemimpin akan mempelajari dan mengetahui mengenai sifat-sifat dan teori kepemimpinan. Kepepmimpinan yang baik, adalah kepoemimpinan yang situasional, dimana seorang pemimpin dapat mengambil keputusan dengan menggunakan gaya kepemimpinan yang berbeda sesuai dengan situasi serta kondisi yang dihadapinya. Menurut penelitian Universitas OHIO, bahwa gaya kepemimpinan ada 3 : yakni Otoriter, Demokratis, dan Liberal. Ini artinya bahwa setiap pemimpin dapat menerapkan ketiga gaya tersebut secara bergantian di dalam situasi dan kondisi yang diperlukan.
Ketiga gaya kepemimpinan tersebut memiliki fungsi yang berbeda namun memiliki suatu tujuan yang sama, yakni menjadikan para pemimpin mampu melayani dengan baik di dalam kepemimpinannya.
2 2. Di dalam kehidupan sehari-hari saya masih dalam tahap belajar serta berproses khususnya di dalam komitmen pemimpin yang berkompeten. Seringkali saya menggunakan gaya kepemimpinan yang otoriter dan liberal dalam memimpin diri saya sendiri, dan menggunakan gaya kepemimpinan yang demokratis terhadap sesama . Ini disebabkan kurangnya rasa tega saya terhadap sesama, namun saya mengharuskan suatu pencapaian dan otorisasi di dalam diri saya. Kepemimpinan demokratis yang seringkali saya terapkan terhadap sesama saya adalah karena saya ingin selalu menghargai serta menoleransi sesama, dan juga saya menyadari apabila saya diperlakukan otoriter pun kurang begitu mengena, sehingga saya juga memperlakukan sesama sebagaimana saya menempatkan diri sendiri. Hal ini menjadikan pembelajaran yang terus berlanjut di dalam kehidupan sehari-hari saya khususnya di dalam etika kepemimpinan.
3. Jujur saja, saya selalu menerapkan gaya kepemimpinan yang demokratis terhadap sesama, namun demikian menjadikan saya harus mengimbanginya dengan ketegasan yang ada di dalam gaya kepemimpinan otoriter. Tingkat kematangan seorang pemimpin, memang dapat dilihat di dalam sikap, perilaku, dan pengambilan keputusan. Namun, seorang mahasiswa takkan mampu untuk matang di dalam kepemimpinan apabila tanpa mengalami suatu proses yang panjang. Dimana untuk menjadi seorang pemimpin yang efektif dan baik, bukan tidak mungkin tidak pernah melakukan suatu kesalahan. Pemimpin adalah manusia yang tidak selalu benar, namun berusaha untuk menjadi benar. Pemimpin yang benar, pasti pernah mengalami suatu kesalahan di dalam proses kepemimpinannya,pun demikian dengan pemimpin yang baik juga pasti belajar melalui keburukan di dalam prosesnya. Sehingga meurut saya, mahasiswa harus benar-benar dilatih di dalam proses kepemimpinannya dengan selalu diberikan uji coba dalam kepemimpinan, diberikan toleransi apabila melakukan kesalahan di dalam proses pembelajarannya, serta terus dievaluasi,, dimotivasi, dan senantiasa diberikan contoh kepemimpinan yang baik.
J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar